Lanjutan
NEGARA ISLAM
Ketika beliau menunjuk para
wali tersebut, beliau senantiasa memilih orang yang paling sempurna dalam
melaksanakan tugasnya di antara mereka, untuk menjadi wali atau amil beliau.
Beliau juga senantiasa menanamkan iman dalam benak mereka yang akan diterjunkan
ke daerah yang telah ditentukan oleh beliau. Beliau juga selalu menanyai mereka
tentang cara yang akan mereka pergunakan dalam menentukan keputusan mereka.
Diriwayatkan dari beliau, bahwa beliau pernah bertanya kepada Mu'ad Bin Jabal
Al Khazraji, ketika beliau mengutusnya ke Yaman:
"Dengan
apa kamu akan memutuskan (suatu perkara)?, (Mu'ad) menjawab: 'Dengan kitab
Allah'. Beliau bertanya: 'Jika kamu tidak menemukan?', (Mu'ad) menjawab:
'Dengan sunah Rasul-Nya'. Beliau bertanya lagi: 'Jika kamu tidak menemukannya?'
(Mu'ad) menjawab: 'Saya akan berijtihad dengan pendapatku'. Beliau lalu bersabda:
'Segala puji hanya milik Allah, yang telah memberikan taufik kepada utusan
Rasulullah dengan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya."
Diriwayatkan juga bahwa
ketika Nabi saw. menunjuk Aban Bin Sa'id menjadi wali di Bahrain, beliau bersabda
kepadanya:
"Mintalah
nasihat kebajikan kepada Abdi Qais serta muliakanlah penduduknya."
Rasulullah saw. selalu
mengutus orang yang terbaik, yang telah masuk Islam. Beliau biasanya
memerintahkan mereka agar mengajari masalah agama kepada orang-orang yang baru
masuk Islam, serta mengambil zakat dari mereka. Dalam berbagai keadaan, beliau
menyerahkan urusan tersebut kepada para wali agar wali tersebut yang menarik
zakat. Beliau juga menyerukan kepada mereka agar memberikan kabar gembira
kepada seluruh manusia, serta mengajarkan Al Qur'an kepada mereka, dan mendidik
mereka dalam hal keagamaan hingga betul-betul faqih (ahli). Beliau juga
mengingatkan mereka agar tidak bersikap lemah dalam masalah yang jelas-jelas
benar. Bahkan, beliau menganjurkan agar bersikap keras terhadap kedzaliman. Dan
mencegah orang-orang agar tidak memprovokasikan kesukuan dan ras tertentu,
sehingga provokasi mereka hanya kepada Allah semata, yang tidak akan mereka
persekutukan dengan apapun yang lain. Serta mengambil khumus al amwal
(1/5 dari harta temuan) dan
sedekah-sedekah yang telah telah diwajibkan atas kaum muslimin (zakat mal dan
sejenisnya).
Orang Yahudi dan Nasrani yang telah memeluk Islam dengan
tulus dari lubuk hati mereka sendiri, maka mereka adalah orang-orang mukmin.
Dimana mereka berhak mendapatkan hak dan kewajiban sebagaimana layaknya orang
mukmin yang lain. Sedangkan mereka yang tetap dalam kenasranian dan
keyahudiannya, tetap akan dilindungi. Sebagaimana yang tertuang dalam
pernyataan Rasulullah kepada Mu'ad Bin Jabal, saat beliau mengutusnya ke Yaman:
"Sesungguhnya kamu
akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali kamu
sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal
Allah, sampaikan kepada mereka bahwa Allah memfardlukan kepada mereka zakat
yang akan diambil dari mereka yang kaya, kemudian akan diberikan kepada yang
miskin. Jika mereka menaatinya, maka ambillah (zakat) dari mereka, dan
kehormatan hartanya pun akan dijaga. Berhati-hatilah, terhadap doa orang-orang
yang terdzalimi. Sebab antara mereka dengan Allah tidak terdapat hijab (tabir
pemisah)."
Dalam keadaan tertentu
Rasulullah saw. mengirim orang khusus untuk mengurusi masalah harta. Karenanya,
setiap tahun Rasul selalu mengutus Abdullah Bin Rawwahah kepada orang-orang
Yahudi Khaibar untuk memungut kharaj dari hasil tanaman mereka. Mereka
pernah mengadu kepada utusan Rasul tersebut karena beban pemungutannya
terlampau berat, lalu mereka ingin menyogok Abdullah Bin Rawwahah. Mereka
kemudian mengumpulkan cincin istri-istri mereka. Dan mereka katakan kepada
Abdullah: "Ini (hadiah) untukmu dan peringanlah (pungutan) yang menjadi
beban kami. Dan bagilah secara merata." Abdullah kemudian menjawab: "Hai
orang-orang Yahudi, (dengarkan) bagi kami kalian adalah orang yang paling
dimurkai Allah. Harta ini tidak akan aku ambil dengan harapan aku akan
memperingan (pungutan) yang menjadi kewajiban kalian. Suap yang kalian berikan
ini, sesungguhnya merupakan suht (harta haram). Dan sungguh kami tidak
akan memakannya." Mereka kemudian berkomentar: "Karena sikap
seperti inilah, maka langit dan bumi ini senantiasa tetap akan tegak."
Rasulullah saw. juga senantiasa mengorek keadaan para wali
dan amil beliau. Beliau juga memperhatikan informasi-informasi tentang mereka
yang disampaikan kepada beliau. Beliau pernah memberhentikan Ila' Bin Al
Hadhrami dari jabatannya sebagai amil beliau di Bahrain, karena ada utusan dari
Abdi Qaid yang mengadukannya kepada Nabi. Dan Rasul pun memenuhi kritik yang
ditujukan kepada amil beliau. Beliau juga selalu mengontrol anggaran dan
pengeluaran mereka.
Rasul juga telah mempergunakan seseorang yang secara khusus
mengambil zakat. Maka tatkala kembali, beliau mengontrolnya kemudian orang
tersebut mengatakan: "Ini untukmu (Ya Rasul), sedangkan ini telah
dihadiahkan kepadaku." Beliau lalu bersabda:
"Mengapa
bisa terjadi pada orang yang aku utus untuk melaksanakan tugas tertentu yang
Allah berikan kepada kami, lalu mengatakan: 'Ini adalah untukmu, sedangkan yang
ini telah dihadiahkan kepadaku.' Mengapa dia tidak tinggal diam di rumah
bapak-ibunya saja lalu kita lihat, apakah dia akan mendapat hadiah atau
tidak."
Beliau melanjutkan sabdanya:
"Orang
yang telah kami tugaskan untuk melaksanakan amal tertentu, kemudian kami bayar
dengan bayaran tertentu, maka jika masih mendapatkan di luar itu tidak ada lain
kecuali ghulul (harta haram)."
Penduduk Yaman pernah
melapor tentang bacaan yang dibaca Mu'ad Bin Jabal ketika menjadi imam shalat,
yang terlampau panjang, maka Nabi segera menegurnya. Dan beliau bersabda:
"Barang
siapa yang menjadi imam orang lain (dalam shalat) hendaknya memperingan
(bacaannya)."
Nabi saw.
pernah mengangkat para qadli untuk menegakkan hukum di tengah-tengah rakyat.
Beliau pernah mengangkat Ali Bin Abi Thalib sebagai qadli di Yaman dan Abdullah
Bin Naufal sebagai qadli di Madinah. Beliau juga pernah menugaskan Mu'ad Bin
Jabal dan Abu Musa Al Asy'ari untuk menjadi qadli di Yaman (Yaman Utara dan
Selatan). Rasul pernah menanyai mereka berdua:
"Dengan
apa kalian (berdua) akan menghukumi?" Mereka berdua menjawab: 'Jika kami
tidak menemukannya di dalam Al Kitab dan As Sunah, kami akan menganalogkan
(mengqiyaskan) satu masalah dengan masalah lain. Mana yang lebih mendekati
kepada kebenaran, maka itulah yang akan kami pergunakan.'"
Dan Nabi pun membenarkannya.
Sikap beliau ini menunjukkan, bahwa beliau senantiasa memilih para qadli serta
menentukan tata cara mereka mengambil keputusan. Dan ternyata tidak hanya
menentukan para qadli biasa, bahkan beliau menetapkan qadli madhalim
(PTUN). Beliau pernah menugaskan Rasyid Bin Abdullah sebagai kepala qadli
sekaligus qadli madhalim. Kemudian, beliau memberikan wewenang kepadanya untuk
memutuskan perkara-perkara kedzaliman.
Nabi saw. juga mengatur seluruh kepentingan rakyat. Beliau
mengangkat para penulis untuk mengatur kepentingan tersebut. Mereka itu
layaknya seperti dirjen sebuah departemen. Ali Bin Abi Thalib adalah penulis
perjanjian, apabila Nabi sedang melakukan perjanjian serta penulis perdamaian,
apabila beliau sedang melakukan perdamaian. Harits Bin Auf Al Mari mengurusi
cincin beliau (yang menjadi stemple negara beliau). Mu'aiqib Bin Abi Fatimah
menjadi penulis ganimah (harta hasil rampasan perang, setelah mengalami
kemenangan dalam peperangan). Hudzaifah menjadi pencatat hasil pendapatan tanah
Hijaz. Zubeir Bin Awwam menjadi pencatat zakat. Mughirah Bin Syu'bah menjadi
pencatat hutang-hutang serta transaksi-transaksi mu'amalah. Surahbil Bin Hisan
menjadi penulis surat kepada raja-raja. Dalam setiap urusan beliau selalu
mengangkat notulen (penulis), yang bertugas mengurus urusan tersebut
meskipun yang diurusi juga beragam kepentingannya.
Nabi saw. sering bermusyawarah dengan para sahabat beliau.
Beliau tidak pernah lepas dari saran-saran ahli ra'yu (para pemikir)
serta orang yang beliau pandang memiliki kecemerlangan berfikir dan kelebihan.
Dimana mereka semua memberikan penjelasan berdasarkan kekuatan iman serta
ketakwaan mereka, dalam rangka menyebarkan dakwah Islam. Mereka berjumlah,
tujuh orang dari kaum Anshar dan tujuh
yang lainnya dari kaum Muhajirin. Diantaranya adalah Hamzah, Abu Bakar,
Ja'far, Ali, Umar, Ibnu Mas'ud, Salman, Ammar, Hudzaifah, Abu Dzar, Miqdad, dan
Bilal Bin Rabbah. Beliau juga pernah meminta pendapat kepada yang lain, selain
mereka. Hanya saja bedanya, frekwensi beliau bermusyawarah dengan mereka lebih
intens. Jadi, mereka layaknya adalah seperti majelis syura.
Nabi saw. telah menetapkan harta atas kaum muslimin serta
yang lain, termasuk atas tanah, hasil panen, serta hewan, yang berupa zakat, usyur
(pungutan 1/10 di daerah perbatasan), fai' (harta rampasan yang telah
ditinggal oleh pemiliknya tanpa terjadinya peperangan), kharaj, jizyah.
Dimana anfal serta ghanimah tersebut menjadi milik baitul mal.
Sedangkan distribusi zakat, diberikan kepada delapan kelompok, yang telah
dinyatakan di dalam Al Qur'an. Dan sedikit pun tidak akan diberikan kepada
kelompok yang lain. Begitu pula dalam urusan negara, negara Islam tidak akan
mengambil sedikitpun dari sana. Untuk melayani kebutuhan rakyat, mereka akan disuplay
dengan harta yang berasal dari fai', kharaj, jizyah, serta ghanimah.
Semuanya itu cukup untuk mengurusi kebutuhan negara beserta angkatan
bersenjatanya. Dan negara tidak akan pernah merasa membutuhkan lagi harta yang
lain.
Demikianlah, Rasulullah saw. membangun struktur negara
Islam sendiri, kemudian beliau sempurnakan semasa hidup beliau. Dan beliaulah
yang menjadi kepala negaranya. Beliau juga memiliki dua mu'awin
(pembantu), wali, amil, qadli, pasukan, dirjen departemen-dirjen departemen
serta majelis syura. Struktur ini, dengan segala bentuk dan otoritasnya, adalah
thariqah yang wajib diikuti. Semuanya tadi telah dinyatakan berdasarkan
riwayat yang mutawatir.
Rasulullah saw. senantiasa
menjalankan tugas sebagai kepala negara semenjak tiba di Madinah hingga beliau
wafat, sementara Abu Bakar dan Umar Bin Khattab adalah mu'awin beliau. Para
sahabat, sepeninggal beliau, juga telah
sepakat untuk mengangkat kepala negara yang menjadi penerus Rasulullah saw.
dalam memimpin negara, bukan sebagai penerus kerasulan dan penerus kenabian.
Sebab, kenabian dan kerasulan ini telah berakhir pada beliau saja. Demikianlah
Rasulullah saw. telah membangun struktur negara secara sempurna dalam kehidupan
beliau. Beliau telah meninggalkan bentuk pemerintahan dan struktur negara yang
telah sedemikian dikenal dan teramat jelas.



0 komentar:
Posting Komentar